DAMPAK CYBER ESPIONAGE TERHADAP KEAMANAN DATA DAN PRIVASI INDIVIDU
MAKALAH
ETIKA PROFESI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (EPTIK)
DAMPAK
CYBER ESPIONAGE TERHADAP KEAMANAN DATA DAN PRIVASI INDIVIDU
Pertemuan
13
1. 19200284 – AISYAH ANISA’UL F
2. 19200342
– ANJARINI EKA LS
3.
19200645
– AINIYYAHSIH IRAWAN
4. 19200287 – CHRISDIANTO SIAGIAN
5. 19200352 – REZA ALDINO
6. 19200653
– ZAFAR DARMANSYAH
DAFTAR ISI
2.2 Pengertian Teknologi Informasi
2.4 Pengertian Cyber Espionage
2.5 Pengertian Keamanan Sistem Informasi
2.8 Cara Mencegah Cyber
Espionage
3.1.1 Motif
Terjadinya Cyber Espionage terhadap Keamanan Data dan Privasi Individu
3.1.2 Penyebab terjadinya Cyber Espionage terhadap
Keamanan Data dan Privasi Individu
3.1.3 Penanggulangan Cyber Espionage terhadap
Keamanan Data dan Privasi Individu
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dalam bidang
teknologi dan informasi saat ini semakin pesat khususnya teknologi internet.
Teknologi internet membantu setiap orang untuk dapat saling terhubung dan
berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Perkembangan akan teknologi informasi dapat
memberikan kemudahan didalam kehidupan kita, akan tetapi dengan adanya
perkembangan teknologi informasi juga selalu memiliki aspek negatif salah
satunya adalah masalah keamanan (security).
Seiring dengan
perkembangan teknologi internet, menyebabkan munculnya kejahatan yang disebut
dengan cyber crime atau kejahatan melalui jaringan internet. Berbicara mengenai
kejahatam siber, tentunya ada banyak jenis yang harus diwaspadai seiring dengan
meningkatnyaangka kejahatan yang merugikan, salah satunya adalah cyber espionage.
Cyber espionage merupakan
kegiatan memata-matai dengan tujuan mendapatkan informasi rahasia dan
membocorkannya tanpa izin pemegang atau pemilik informasi tersebut. Tujuannya
supaya mendapatkan keuntungan dari pihak lain namun merugikan bagi pihak
korban. Cyber espionage bisa dikatakan sebagai tindakan spionase yang dilakukan
di dunia ciber melalui sistem informasi atau internet. Tujuannya agar
mendapatkan informasi tertentu baik mengenai perushaaan, negara, pemerintahan
atau bahkan militer.
Cyber espionage
menciptakan kekacauan dalam kehidupan teknologi informasi dalam skala yang
sudah nasional dan internasional. Kejatahan spionase bahkan dapat memengaruhi
hasil pemilihan politik serta berdampak pada keberhasilan perusahaan dalam
sebuah kompetisi. Oleh karena itu, penulis menyampaikan dampak dari adanya
kegiatan cyber espionage terhadap keamanan data dan privasi individu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka dalam penelitian ini masalah yang dirumuskan sebagai
berikut :
1. Bagaimana
dampak Cyber Espionage terhadap Keamanan Data dan Privasi Individu?
2. Apa
saja solusi yang bisa diberikan terhadap dampak Cyber Espionage terhadap
Keamanan Data dan Privasi Individu?
1.3 Batasan Masalah
Dalam penulisan Makalah
ini, penulis hanya terfokus pada pembahasan Dampak Cyber Espionage terhadap
Keamanan Data dan Privasi Individu.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk meningkatkan kewaspadaan kepada pengguna teknologi terhadap dampak Cyber
Espionage terhadap Keamanan Data dan Privasi Individu.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini
adalah memberikan informasi bagi pengembang IPTEK dapat menambah pengetahuan
dalam bidang teknologi, khususnya bidang keamanan tentang sistem informasi pengguna
teknologi serta bisa diharapkann menjadi referensi untuk penelitian terkait pada penelitian
mendatang.
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1 Pengertian
Teknologi
Menurut Jacques Ellul
(1964), menyatakan bahwa teknologi adalah suatu sistem yang menggabungkan
metode, prosedur, dan perangkat yang disusun untuk mencapai suatu hasil yang
diinginkan. Sedangkan menurut Carl Mitcham (1994) menyatakan bahwa, teknologi
mencakup produk-produk manusia dan praktik-praktik yang melibatkan pemilihan,
penggunaan, dan pengembangan sumber daya alam serta energi dengan tujuan untuk
memuaskan kebutuhan manusia.
2.2 Pengertian
Teknologi Informasi
Pengertian teknologi
informasi menurut O'Brien dan Marakas pada tahun 2011, menyatakan bahwa
teknologi informasi adalah penggunaan perangkat keras, perangkat lunak,
jaringan, dan media komunikasi untuk menyimpan, mengambil, mentransmisikan, dan
memanipulasi data informasi.
Menurut
Schneider dan Perry menyatakan bahwa teknologi informasi melibatkan penggunaan
perangkat keras dan perangkat lunak komputer bersama dengan jaringan dan
infrastruktur komunikasi untuk menyediakan, mengelola, dan mendistribusikan
informasi.
2.3 Pengertian
Cyber Crime
David M. Soderberg pada
tahun 1990 berpendapat bahwa definisi cyber
crime dinilai sebagai tindakan kriminal yang melibatkan penggunaan komputer
dan jaringan komunikasi untuk merusak atau merugikan orang lain. Sedangkan
menurut Neil Barrett (1996), menjelaskan bahwa cyber crime mencakup berbagai aktivitas kriminal yang dilakukan
dengan menggunakan teknologi komputer, termasuk serangan terhadap sistem
komputer, pencurian identitas, dan penipuan elektronik. Richard Power pada
tahun 2007 menggambarkan cyber crime
sebagai segala tindakan kriminal yang melibatkan komputer atau jaringan
komunikasi sebagai sarana utama atau sasaran kejahatan.
Secara umum, cyber crime merujuk pada kejahatan yang
melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer,
internet, dan jaringan komputer. Jenis kejahatan ini dapat mencakup serangan
terhadap sistem komputer, pencurian data, penipuan elektronik, penyebaran
malware, dan banyak lagi.
2.4 Pengertian
Cyber Espionage
Cyber
espionage, atau mata-mata siber, merujuk pada kegiatan memperoleh informasi
rahasia atau strategis melalui serangan siber. Para ahli telah memberikan
berbagai definisi tergantung pada sudut pandang dan kepentingan masing-masing.
Berikut adalah beberapa definisi dari para ahli dalam beberapa tahun terakhir:
1. James
Andrew Lewis (2011)
James Andrew Lewis,
seorang pakar kebijakan keamanan siber di Center for Strategic and
International Studies (CSIS), menyatakan bahwa cyber espionage adalah
"pencurian data rahasia, baik itu militer atau ekonomi, dengan cara masuk
secara ilegal ke dalam sistem komputer."
2. Richard
A. Clarke dan Robert K. Knake (2010)
Dalam bukunya yang
berjudul "Cyber War: The Next Threat to National Security and What to Do
About It," Clarke dan Knake mendefinisikan cyber espionage sebagai
"penyusupan siber ke dalam sistem komputer untuk mendapatkan informasi
tanpa sepengetahuan atau izin pemilik data."
3. The
United States Department of Defense (2013)
Departemen Pertahanan
Amerika Serikat mendefinisikan cyber espionage sebagai "pengumpulan
informasi melalui eksploitasi dari sistem komputer, jaringan, atau teknologi
komunikasi siber yang melibatkan aktivitas rahasia, atau penggunaan teknik yang
dirancang untuk menyembunyikan identitas atau niat."
4. Liang,
X., & Bi, J. (2013)
Dalam makalah mereka yang
diterbitkan di jurnal "Computer Networks," Liang dan Bi
mendefinisikan cyber espionage sebagai "aktivitas ilegal yang melibatkan
perolehan informasi sensitif atau rahasia dari sumber luar tanpa izin
pemiliknya melalui serangan terhadap jaringan komputer."
5. Kevin
Mandia (2012)
Kevin Mandia, seorang
pakar keamanan siber dan CEO Mandiant Corporation, menyebut cyber espionage
sebagai "upaya untuk mengakses, mengumpulkan, dan memanipulasi informasi
pribadi, bisnis, atau pemerintah melalui serangan siber."
Definisi-definisi ini
memberikan gambaran tentang sifat dan cakupan cyber espionage, yang umumnya
melibatkan serangan siber untuk mencuri informasi rahasia atau strategis dari
berbagai entitas, termasuk organisasi pemerintah, perusahaan, dan individu.
2.5 Pengertian
Keamanan Sistem Informasi
Keamanan sistem informasi
menurut seorang ahli yang bernama Richard Mason mempunyai keterkaitan dengan
etika didalam sistem informasi diantaranya privasi, akurasi, properti, dan akses.
Ada beberapa pengertian
tentang keamanan sistem informasi menurut para pakar seperti dibawah ini :
a. John
D. Howard mengatakan bahwa keamanan komputer dapat mencegah penyerang mencapai
tujuan akses yang tidak sah atau penggunaan yang tidak sah dalam komputer dan
jaringan.
b. G.
J. Simons berpendapat jika keamanansuatu sistem informasi ialah bagaimana cara
untuk mlakukan suatu penipuan data, dan melakukan pendeteksian terhadap
penipuan sistem yang memiliki basis informasi dimana informasi tidak memiliki
bentuk secara fisik.
Keamanan sistem mengacu
kepada perlindungan terhadap semua sumberdaya informasi dari ancaman oleh pihak
- pihak yang tidak bertanggung jawab atau tidak punya wewenang.
Lembaga/Institusi/organisasi biasanya punya kebijakan atau strategi dalam
menerapkan keamanan sistem yang aman dan juga menerapkan perlawanan dan
perlindungan yang diperlukan. Sedangkan sasaran dan tujuan dari keamanan sistem
informasi sendiri adalah sebagai berikut :
a. Memberikan
Jaminan mengenai integritas informasi.
b. Memberikan
keamanan atau rahasia terhadap data.
c. Memberikan
kepastian dan kesiapan terhadap sistem informasi.
d. Memberikan
kepastian dalam pemenuhan tentang peraturan, hukum, dan bakuan yang berlaku.
e. Melemahkan
suatu sistem yang dapat memberikan ancaman yang merusak data atau sistem
informasi.
2.6 Tahapan Cyber
Espionage
Berikut
tahapan dalam cyber espionage
1. Pencarian
data (Footprinting)
Tahapan pertama dari cyber espionage
adalah pencarian data atau footprinting. Seperti namanya, pelaku akan mencari
data yang bisa mereka susupi dengan mudah. Kemudian, mereka akan akan menyerang
data tersebut dengan terlebih dahulu menentukan lingkup serangan hingga membuat
peta jaringan.
2. Pemilihan Sasaran (Scanning)
Tahapan selanjutnya dari tindak
kejahatan cyber espionage adalah memilih sasaran atau yang
juga dikenal dengan istilah scanning. Pelaku tindak kriminal ini
akan memilih sasaran setelah mereka mendapatkan data yang diperlukan. Dalam
tahapan ini, mereka akan menentukan kelemahan sistem jaringan target korbat.
3. Pencarian
data sasaran
Setelah mampu masuk dalam sistem
jaringan melalui kelemahan sistem tersebut, pelaku akan mencari data yang
mereka targetkan. Beberapa contoh data yang menjadi sasaran pelaku cyber
espionage adalah nama akun, share resources, dan lain
sebagainya. Tahapan dari cyber espionage ini juga dikenal dengan sebutan lain,
yaitu enumerasi.
4. Mendapatkan Akses
Untuk bisa melakukan kejahatan,
pelaku akan memasuki tahapan selanjutnya yaitu mendapatkan akses terhadap
sistem. Caranya tentu saja menggunakan salah satu akun yang menjadi bagian dari
sistem tersebut. Artinya, akun tersebut memiliki akses terhadap sistem yang
menjadi target peretas.
5.
Escalating Privilage
Penasaran dengan proses
selanjutnya dari apa itu cyber espionage? Setelah berhasil masuk ke dalam
sistem yang menjadi sasaran kejahatan, itu artinya hacker sudah
berhasil menemukan celah. Sehingga mereka bisa merubah role akun tersebut agar
bisa mengakses seluruh informasi yang diperlukan.
6.
Tahap Espionage
Nah, pada fase espionage
inilah hacker akan mencuri informasi yang mereka targetkan.
Karena sudah memiliki akses dengan mengubah role akun yang
mereka gunakan, hacker bisa dengan mudah mendapatkan informasi
atau data yang memang mereka incar sebagai sasaran.
2.7 Dampak Cyber Espionage
Dampak
cyber espionage terhadap keamanan data dan privasi individu dapat sangat
merugikan dan melibatkan berbagai aspek. Berikut adalah beberapa dampak utama:
1. Pencurian
Identitas
Serangan siber yang
melibatkan cyber espionage dapat menyebabkan pencurian identitas. Pelaku dapat
mengakses informasi pribadi seperti nama, alamat, nomor identitas, dan data
pribadi lainnya untuk mengidentifikasi atau mengakses akun dan layanan.
2. Penyusupan
ke Data Kesehatan
Informasi kesehatan
pribadi yang tersimpan dalam sistem komputer dapat menjadi target cyber
espionage. Pencurian data kesehatan dapat memiliki konsekuensi serius, termasuk
penyalahgunaan informasi medis dan risiko keamanan bagi pasien.
3. Kerugian
Finansial
Penyalahgunaan informasi finansial yang diperoleh melalui serangan siber dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan bagi individu. Data kartu kredit, informasi perbankan, dan rincian keuangan pribadi dapat digunakan untuk melakukan penipuan atau pencurian dana.
4. Ancaman
terhadap Keamanan Rumah Tangga
Dengan semakin
terhubungnya perangkat rumah tangga ke internet (IoT), serangan siber dapat
mencakup pengawasan rumah tangga dan keamanan fisik. Pencurian data mengenai
rutinitas harian dan kehadiran di rumah dapat membahayakan keamanan dan privasi
individu.
5. Pengaruh
pada Hak Privasi dan Kebebasan Pribadi
Serangan siber yang
melibatkan cyber espionage dapat merusak hak privasi dan kebebasan pribadi
individu. Informasi yang dicuri dapat digunakan untuk membuat profil pribadi
yang mendalam dan merinci kehidupan individu secara tidak sah.
6. Serangan
Ransomware dan Penguncian Data
Dalam beberapa kasus,
serangan siber dapat menggunakan ransomware untuk mengenkripsi data individu dan
meminta tebusan untuk mengembalikan akses. Hal ini tidak hanya merugikan dari
segi finansial tetapi juga dapat menyebabkan kehilangan data yang penting.
7. Ketidaknyamanan
Emosional dan Psikologis
Menjadi korban serangan
siber dan kehilangan kontrol atas informasi pribadi dapat menyebabkan stres,
kecemasan, dan kerentanan emosional lainnya. Pemulihan dari serangan siber juga
dapat menjadi proses yang sulit secara psikologis.
8. Penyalahgunaan
Informasi Rahasia
Data pribadi yang dicuri melalui
cyber espionage dapat digunakan untuk melakukan pemerasan, ancaman, atau
kejahatan lainnya yang merugikan individu secara pribadi atau profesional.
Dengan
meningkatnya ancaman cyber espionage, penting bagi individu untuk meningkatkan
kesadaran keamanan siber, melindungi data pribadi mereka dengan tindakan yang
tepat, dan berpartisipasi dalam upaya perlindungan data secara umum. Selain
itu, perusahaan dan pemerintah juga harus mengambil langkah-langkah untuk
memperkuat keamanan siber dan melindungi privasi warganya.
2.8 Cara Mencegah Cyber
Espionage
Mencegah cyber espionage terhadap keamanan
data dan privasi individu melibatkan serangkaian tindakan proaktif dan
langkah-langkah keamanan siber. Berikut adalah beberapa cara untuk melindungi
diri dari ancaman tersebut:
1.
Kesadaran Keamanan
Tingkatkan
kesadaran diri dan pendidikan keamanan siber. Mengetahui taktik umum yang
digunakan oleh pelaku cyber espionage dapat membantu individu untuk
mengidentifikasi dan melindungi diri dari serangan.
2.
Pembaruan Sistem
Pastikan
bahwa perangkat lunak dan sistem operasi Anda selalu diperbarui dengan
pembaruan keamanan terbaru. Pembaruan ini sering kali mengatasi kerentanan
keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku siber.
3.
Perlindungan
Password yang Kuat
Gunakan
kata sandi yang kuat dan unik untuk akun online Anda. Gantilah kata sandi
secara berkala dan hindari menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa
akun.
4.
Verifikasi Dua
Faktor (2FA)
Aktifkan
fitur verifikasi dua faktor ketika tersedia. Ini menambahkan lapisan keamanan
tambahan dengan memerlukan informasi tambahan selain kata sandi untuk mengakses
akun.
5.
Firewall dan
Antivirus
Pastikan
firewall dan perangkat lunak antivirus terpasang dan selalu diperbarui. Ini
membantu mendeteksi dan mencegah masuknya malware ke sistem Anda.
6.
Enkripsi Data
Gunakan
enkripsi untuk melindungi data sensitif. Ini dapat melibatkan enkripsi hard
drive, penggunaan protokol HTTPS saat berselancar di web, dan penggunaan
aplikasi enkripsi untuk komunikasi.
7.
Pentingnya
Pencadangan Data
Lakukan
pencadangan data secara teratur. Jika terjadi serangan ransomware atau
kehilangan data lainnya, memiliki salinan cadangan dapat membantu memulihkan
informasi yang hilang.
8.
Hindari Klik pada
Tautan atau Lampiran yang Mencurigakan
Jangan
mengklik tautan atau membuka lampiran dari sumber yang tidak dikenal atau
mencurigakan. Ini dapat mencegah serangan phishing yang mungkin mencoba
menginstal malware.
9.
Privasi Media
Sosial
Atur
pengaturan privasi di platform media sosial Anda. Batasi informasi pribadi yang
dapat dilihat oleh orang asing dan pastikan untuk memverifikasi identitas orang
yang ingin terhubung dengan Anda.
10. Jaringan Wi-Fi yang Aman
Amankan
jaringan Wi-Fi Anda dengan menggunakan kata sandi yang kuat dan mengaktifkan
enkripsi WPA2 atau yang lebih tinggi. Hindari menggunakan jaringan Wi-Fi publik
untuk transaksi online yang sensitif.
11. Periksa Aktivitas Akun Secara Berkala
Rutin
memeriksa aktivitas akun online Anda untuk mendeteksi aktivitas yang
mencurigakan atau akses yang tidak sah.
12. Gunakan VPN (Virtual Private Network)
Gunakan
VPN untuk menyembunyikan aktivitas online Anda dan melindungi data saat Anda
terhubung ke internet, terutama dalam jaringan Wi-Fi publik.
13. Pemantauan Identitas
Pertimbangkan
untuk menggunakan layanan pemantauan identitas yang dapat memberi tahu Anda
jika ada aktivitas yang mencurigakan atau perubahan pada profil kredit Anda.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini,
individu dapat meningkatkan keamanan data dan privasi mereka dan mengurangi
risiko menjadi korban cyber espionage.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisa
Kasus
3.1.1 Motif
Terjadinya Cyber Espionage terhadap Keamanan Data dan Privasi Individu
Cyber espionage adalah tindakan spionase yang dilakukan dengan menggunakan teknologi digital. Cyber espionage dapat dilakukan oleh individu, organisasi, atau negara. Tujuan cyber espionage dapat bermacam-macam, antara lain untuk mendapatkan informasi rahasia, sabotase, atau pencurian data.
Berikut adalah
beberapa motif cyber espionage:
1.
Keamanan nasional
2.
Keuntungan ekonomi
3.
Kerugian ekonomi
4.
Penyebaran Propaganda
5.
Persaingan politik
6.
Keinginan untuk mendapatkan
keunggulan strategis
3.1.2 Penyebab terjadinya Cyber
Espionage terhadap Keamanan Data dan Privasi Individu
Cyber espionage
dapat terjadi karena berbagai faktor, antara lain:
1.
Kemajuan teknologi
Perkembangan
teknologi digital telah memudahkan pelaku cyber espionage untuk melakukan
aksinya. Pelaku cyber espionage dapat memanfaatkan berbagai teknologi digital,
seperti internet, perangkat lunak, dan jaringan komputer, untuk melakukan cyber
espionage.
2.
Kurangnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya keamanan data dan privasi
Kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya keamanan data dan privasi dapat menjadi faktor yang
memudahkan pelaku cyber espionage untuk melakukan aksinya. Masyarakat yang
tidak menyadari pentingnya keamanan data dan privasi akan lebih rentan menjadi
korban cyber espionage.
3.
Kelemahan keamanan sistem
Kelemahan keamanan
sistem juga dapat menjadi faktor yang memudahkan pelaku cyber espionage untuk
melakukan aksinya. Sistem yang tidak aman dapat dengan mudah dibobol oleh
pelaku cyber espionage.
4.
Konflik politik dan ekonomi
5.
Serangan cyber espionage seringkali
terkait dengan ketegangan politik atau persaingan ekonomi antarnegara.
3.1.3 Penanggulangan Cyber Espionage terhadap
Keamanan Data dan Privasi Individu
Untuk menanggulangi cyber espionage,
perlu dilakukan upaya-upaya dari berbagai pihak, antara lain:
1.
Pemerintah
Pemerintah perlu memperkuat regulasi
dan penegakan hukum di bidang cyber security. Regulasi yang kuat dapat membantu
melindungi keamanan data dan privasi individu. Penegakan hukum yang tegas juga
dapat memberikan efek jera bagi pelaku cyber espionage.
Selain itu, pemerintah juga perlu
meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan data dan privasi.
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti melalui kampanye publik,
pendidikan, atau sosialisasi.Individu
2.
Individu perlu meningkatkan kesadaran
akan pentingnya keamanan data dan privasi. Individu perlu menggunakan
langkah-langkah keamanan dasar, seperti menggunakan kata sandi yang kuat dan
berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi.
Individu
dapat melakukan hal-hal berikut untuk melindungi keamanan data dan privasinya:
1. Perbarui perangkat lunak dan sistem operasi:
Pastikan Anda selalu memperbarui perangkat lunak dan sistem operasi Anda dengan
versi terbaru. Pembaruan ini seringkali mencakup perbaikan keamanan untuk
melawan serangan cyber terbaru.
2. Gunakan keamanan jaringan yang kuat: Pastikan
jaringan Wi-Fi rumah atau kantor Anda dilindungi dengan kata sandi yang kuat
dan enkripsi yang aman. Selain itu, pastikan perangkat yang terhubung ke
jaringan juga memiliki proteksi keamanan yang memadai.
3. Gunakan kata sandi yang unik dan kuat: Buatlah kata
sandi yang berbeda untuk setiap akun Anda dan pastikan mereka kuat dengan
kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Menggunakan manajer kata
sandi dapat membantu Anda menyimpan dan mengelola kata sandi dengan aman.
4. Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA): Tambahkan
lapisan keamanan ekstra dengan mengaktifkan autentikasi dua faktor di akun-akun
penting Anda. Dengan 2FA, Anda akan memerlukan kode unik atau verifikasi
tambahan selain dari kata sandi saat masuk.
5. Hindari mengklik tautan atau lampiran yang
mencurigakan: Jangan klik tautan atau membuka lampiran dari pengirim yang tidak
Anda kenal atau dari email yang mencurigakan. Ini dapat menyebabkan Anda
terkena serangan phishing atau malware.
6. Periksa izin aplikasi: Periksa izin dan akses yang diminta oleh aplikasi yang Anda unduh. Pastikan aplikasi hanya mengakses informasi yang diperlukan dan tidak berbagi data sensitif tanpa persetujuan Anda.
3.
Organisasi
Organisasi
perlu menerapkan langkah-langkah keamanan data yang memadai. Organisasi perlu
melakukan pelatihan keamanan bagi karyawannya dan menggunakan teknologi
keamanan yang mutakhir.
Organisasi
dapat melakukan hal-hal berikut untuk melindungi keamanan data dan privasinya:
1. Lakukan pelatihan keamanan bagi karyawan
Karyawan
perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan keamanan data yang memadai.
Hal ini dapat membantu karyawan untuk mengenali dan menghindari serangan cyber.
2. Gunakan teknologi keamanan yang mutakhir
Teknologi
keamanan yang mutakhir dapat membantu melindungi organisasi dari serangan
cyber. Organisasi perlu menggunakan teknologi keamanan yang sesuai dengan
kebutuhannya.
3. Lakukan audit keamanan secara berkala
Audit keamanan dapat membantu organisasi untuk mengidentifikasi dan mengatasi kerentanan keamanan. Organisasi perlu melakukan audit keamanan secara berkala untuk memastikan keamanan data dan privasinya.
Dengan
melakukan upaya-upaya tersebut, diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya
cyber espionage terhadap keamanan data dan privasi individu.
3.1.4 Contoh Kasus
1. Kasus pencurian data pribadi 50 juta
pengguna Tokopedia pada tahun 2020
E-Commerce Tokopedia diretas hacker. 91 juta data akun pengguna dan 7 juta akun merchant dikabarkan bocor dan dijual di Dark Web. Pada 2019, Tokopedia mengklaim memiliki 91 juta pengguna.
"Saya memutuskan untuk membagi data bagian dari timbunan data Tokpedia [yang diretas] Maret 2020 dan akan membagikan 15 juta dari banyak lagi," tulisnya pada ReidForums, seperti dikutip Senin (4/5/2020).
Sehari kemudian, hacker mengumumkan telah menjual 91 juta data seharga US$5.000 atau setara Rp 75 juta. Ia menjuadlnya di Empire Market, pasar gelap di Dark Web.
Manajemen Tokopedia sendiri sudah mengakui akan adanya upaya pencurian data pengguna Tokopedia namun informasi penting seperti password tetap berhasil terlindungi.
"Meskipun password dan informasi krusial pengguna tetap terlindungi di balik enkripsi, kami anjurkan pengguna Tokopedia untuk tetap mengganti password akunnya secara berkala demi keamanan dan kenyamanan," ujar VP of Corporate Communication Tokopedia, Nuraini Razak.
Nuraini menambahkan Tokopedia menerapkan keamanan berlapis, termasuk dengan OTP yang hanya dapat diakses secara real time oleh pemilik akun. Mereka pun selalu mengedukasi seluruh pengguna untuk tidak memberikan kode OTP kepada siapapun dan untuk alasan apapun.
"Tokopedia memastikan tidak ada kebocoran data pembayaran. Seluruh transaksi dengan semua metode pembayaran, termasuk informasi kartu debit, kartu kredit dan OVO di Tokopedia tetap terjaga keamanannya," ujar Nuraini Razak dalam keterangan pers, Minggu (3/5/2020).
Kasus ini terungkap ke publik oleh akun twitter @underthebreach yang mengklaim dirinya sebagai layanan pengawasan dan pencengahan kebocoroan data asal Israel.
Sumber : cnbcindonesia.com
2.
Kasus pencurian data pribadi 1,3 miliar pengguna Facebook di Indonesia
pada tahun 2021
Sebanyak
214 juta data pribadi dari akun Facebook, Instagram, dan LinkedIn dikabarkan
bocor di internet. Pelanggaran data besar ini diungkap oleh peneliti Safety
Detectives.
Data
yang dicuri termasuk alamat email, nomor telepon serta nama lengkap pengguna,
dan dalam beberapa kasus, data lokasi tertentu.
Dalam laporan Safety Detectives disebutkan lebih dari 400 GB data pribadi yang bocor berasal dari Socialarks yang dicuri. Ini adalah perusahaan manajemen media sosial asal China.
Database ElesticSearch menjadi sasaran pelaku kejahatan online, di mana lebih dari 318 juta catatan telah disita. Safety Detectives menyebut database ini dibuat setelah data pengguna 'dihapus' dari Facebook, Instagram, dan Linkedin.
Safety Detectives mengungkap kerentanan database ini ditemukan bulan lalu, dan telah memberitahu Socialarks setelah terkonfirmasi perusahaan yang berbasis di Hong Kong itu adalah pemilik server. Server pun langsung diamankan pada hari yang sama.
Safety Detectives menambahkan dalam beberapa kasus, 'data bekas' tetap dapat dimanfaatkan untuk melakukan tujuan tertentu dalam mengekstraksi informasi pribadi untuk tujuan kriminal.
Konsekuensi potensial dari pengungkapan informasi pribadi ini antara lain termasuk pencurian identitas dan penipuan keuangan yang dilakukan di platform lain, termasuk perbankan online.
"Informasi kontak dapat dimanfaatkan menargetkan korban antara lain mengirim email yang dipersonalisasi berisi informasi pribadi orang itu sehingga percaya, dan menggiring [korban] untuk masuk lebih dalam ke ranah privasi," terang Safety Detectives.
"Berbagai informasi pribadi seperti nama depan dan belakang, alamat rumah dan email, serta nomor ponsel, dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan serangan massal," tambah Safety Detectives.
Untuk menghindari pencurian data, pengguna internet harus lebih berhati-hati antara lain dengan menggunakan perangkat anti virus yang bisa memastikan situs yang dikunjungi menggunakan protokol HTTPS aman, membuat password dengan menggabungkan huruf, angka dan simbol serta mewaspadai email yang masuk dan tautan yang diklik.
Sumber : cnbcindonesia.com
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Cyber espionage memiliki dampak serius terhadap
keamanan data dan privasi individu. Serangan ini dapat menyebabkan pencurian
data sensitif, penyadapan komunikasi, dan penyebaran informasi yang tidak
benar.
2.
Organisasi
dan individu harus meningkatkan kesadaran tentang ancaman cyber espionage.
Peningkatan keamanan dan perlindungan data serta kebijakan privasi yang ketat
perlu diterapkan.
4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah di
paparkan di atas, maka terdapat saran guna menanggulangi cyber espionage:
1. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk semua
akun online. Hindari menggunakan kata sandi yang mudah ditebak atau terlalu
umum.
2. Selalu perbarui perangkat lunak dan sistem operasi
Anda dengan pembaruan keamanan terbaru. Ini akan membantu melindungi perangkat
Anda dari kerentanan yang diketahui.
3. Jaga kehati-hatian saat menerima email atau pesan
yang mencurigakan. Jangan klik tautan atau lampiran yang mencurigakan, terutama
jika Anda tidak mengenal pengirimnya.
4.
Gunakan
layanan keamanan internet yang andal, seperti firewall dan antivirus. Ini akan
membantu mendeteksi dan mencegah serangan cyber espionage.
5. Sosialisasikan tentang pentingnya privasi online
dan keamanan data kepada keluarga, teman, dan kolega. Semakin banyak orang yang
menyadari ancaman ini, semakin baik kita dapat melindungi diri kita sendiri dan
orang lain.

Komentar
Posting Komentar